Tidak Semua yang Kita Jaga Harus Kita Pertahankan

Photo by: www.makemyassignments.com
Image: www.makemyassignments.com

Ada masa ketika kita berada di posisi yang sulit untuk menentukan sikap.

Diam, dianggap tidak peduli.
Bicara, dianggap ikut campur.
Membantu, dianggap terlalu ikut campur.
Tidak membantu, dianggap tidak punya rasa peduli.

Bahkan ketika niat kita sebenarnya sederhana, hanya ingin melakukan hal yang menurut kita benar tetap saja ada kemungkinan seseorang merasa tidak nyaman dengan sikap kita.

Di titik seperti itu, kita mulai bertanya kepada diri sendiri:

“Sebenarnya saya harus bagaimana?”

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain sampai lupa bahwa kita juga memiliki perasaan. Kita berusaha menjaga semuanya tetap baik, tetapi justru diri sendiri yang perlahan merasa lelah.

Tidak Semua Hal Harus Kita Benarkan

Salah satu hal yang paling melelahkan dalam hidup adalah berusaha membuat semua orang memahami kita.

Padahal, sebaik apa pun niat kita, tidak semua orang akan melihatnya dengan cara yang sama.

Kita bisa membantu seseorang dengan tulus, tetapi bantuan itu mungkin dianggap sebagai campur tangan. In professional, i know it's not my responsibility to handle it. It's just as a personal care.

Kita bisa memberikan pendapat karena peduli, tetapi pendapat itu bisa dianggap sebagai kritik.

Kita bisa memilih diam agar keadaan tidak semakin rumit, tetapi diam pun bisa disalahartikan.

Pada akhirnya kita sadar bahwa menjadi orang peduli bukan berarti harus selalu terlihat benar di mata semua orang.

Ada kalanya kita harus menerima bahwa seseorang mungkin salah memahami kita.

Dan itu tidak selalu menjadi tanggung jawab kita untuk memperbaikinya.

Lalu, Bagaimana Seharusnya Bersikap?

Mungkin jawabannya bukan dengan mencari sikap yang selalu benar.

Tetapi dengan belajar membedakan:

Mana yang menjadi tanggung jawab kita, dan mana yang bukan.

Tanggung jawab kita adalah menjaga niat, cara berbicara, tindakan, dan batasan diri.

Sedangkan bagaimana orang lain menafsirkan semuanya, tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Kalau kita sudah berbicara dengan baik, tidak merendahkan, tidak memaksakan kehendak, dan niat kita memang untuk membantu, maka setelah itu kita tidak perlu terus-menerus menghukum diri sendiri karena seseorang memilih memahami kita secara berbeda.

Belajar Menempatkan Diri

Serba salah sering terjadi karena kita terlalu cepat mengambil posisi.

Padahal terkadang yang dibutuhkan bukan langsung bertindak, melainkan berhenti sejenak.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah saya benar-benar perlu ikut campur?”

“Apakah orang ini sedang membutuhkan bantuan, atau hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan?”

“Apakah saya melakukan ini karena tulus membantu, atau karena takut dianggap tidak peduli?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bisa membantu kita melihat situasi dengan lebih jernih.

Karena tidak semua masalah membutuhkan kita untuk turun tangan.

Tidak semua masalah membutuhkan nasihat.

Dan tidak semua keadaan harus kita selesaikan.

Kadang, bentuk kepedulian yang paling dewasa justru adalah memberikan ruang.

Jangan Kehilangan Diri Sendiri Demi Menjaga Semua Orang

Kita boleh peduli.

Kita boleh membantu.

Kita boleh menjadi orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita kehilangan batas terhadap diri sendiri.

Jika terus-menerus mengorbankan ketenangan hanya agar orang lain merasa nyaman, lama-lama kita akan hidup dengan rasa takut:

Takut mengecewakan.

Takut disalahpahami.

Takut dianggap egois.

Takut dianggap tidak peduli.

Padahal hidup bukan tentang bagaimana caranya agar tidak pernah mengecewakan siapa pun.

Hidup adalah tentang belajar mengambil keputusan yang bisa kita pertanggungjawabkan, meskipun tidak semua orang menyukainya.

Pada Akhirnya, Kita Tidak Harus Selalu Memilih

Mungkin selama ini kita berpikir bahwa setiap situasi hanya memiliki dua pilihan:

Bicara atau diam.

Membantu atau pergi.

Bertahan atau meninggalkan.

Memihak atau tidak peduli.

Padahal ada pilihan ketiga:

Menunggu.

Menunggu sampai keadaan lebih jelas.

Menunggu sampai emosi mereda.

Menunggu sampai kita tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Menunggu bukan berarti pengecut.

Kadang menunggu adalah bentuk kedewasaan karena kita tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi sesaat.

Penyelesaiannya Bukan Selalu Menemukan Jawaban

Pada akhirnya, keluar dari situasi serba salah bukan berarti menemukan keputusan yang membuat semua orang senang.

Karena mungkin keputusan seperti itu memang tidak ada.

Penyelesaiannya adalah ketika kita bisa berkata kepada diri sendiri:

“Saya sudah melakukan yang menurutku benar, dengan cara yang sebisa mungkin tidak menyakiti siapa pun. Selebihnya, saya serahkan pada bagaimana orang lain memilih memahaminya.”

Kita tidak bisa mengontrol pikiran semua orang.

Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai sikap kita.

Dan kita tidak mungkin selalu menjadi orang yang tepat dalam setiap keadaan.

Yang bisa kita lakukan adalah tetap belajar menjadi manusia yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus membantu, dan kapan harus mundur.

Karena terkadang, bersikap dewasa bukan tentang selalu tahu harus melakukan apa.

Tetapi tentang berani mengakui bahwa kita tidak selalu tahu jawabannya—lalu tetap memilih untuk bertindak dengan tenang, sadar, dan bertanggung jawab.

Dan mungkin, di situlah kita akhirnya menemukan jalan keluar dari rasa serba salah:

Bukan dengan mencari cara agar semua orang mengerti kita, tetapi dengan belajar memahami diri sendiri terlebih dahulu.

Posting Komentar