![]() |
| Images: https://jurnaba.co/ |
Banyak kesalahpahaman yang muncul bukan karena ada orang bohong, tapi karena informasi kita secuil, tapi maksa pengin dapet kesimpulan utuh.
Sok Tahu yang Menyamar Jadi Keyakinan
Uniknya, rasa "nggak tahu" itu jarang bikin kita merasa bingung. Malah seringnya nyamar jadi rasa yakin yang kuat.
Kita ngeliat orang lain melakukan sesuatu yang nggak kita mengerti, terus langsung mikir orang itu salah. Kita denger cerita sepotong tentang seseorang, terus langsung ngerasa udah kenal luar dalam.
Padahal:
- Ngeliat orang lagi marah nggak bikin kita tahu apa yang terjadi sebelumnya.
- Denger orang ngomong sesuatu nggak otomatis bikin kita paham apa isi kepalanya.
- Dan tahu sepotong cerita jelas beda banget sama tahu keseluruhannya.
Masalahnya, kita sering lupa sama hal-hal itu. Kita terlalu buru-buru nutup buku padahal ceritanya baru mulai.
Otak Kita Paling Nggak Betah Sama "Ketidaktahuan"
Manusia tuh emang paling nggak nyaman sama hal yang abu-abu.
- Ada yang diem aja, kita mau tahu knp.
- Ada yang mendadak berubah, kita nyari alasannya.
- Ada yang ngambil keputusan aneh, kita pengin penjelasan.
Pas penjelasannya nggak ada, ya udah... kita bikin sendiri ceritanya.
Orang nggak balas chat mungkin karena lagi ribet? Bisa jadi. Tapi otak kita lebih seneng mikir dia lagi marah. Orang diam mungkin karena lelah? Bisa jadi. Tapi kita keburu ngecap dia sombong.
Anehnya, kalau dugaan itu makin sering kita putar di kepala, lama-lama rasanya kayak fakta beneran. Padahal buktinya nggak nambah sama sekali. Kita cuma ketagihan mengulangnya di otak sendiri.
Makin Tahu Sedikit, Makin Gampang Menilai
Pernahkah kamun geliat hasil orang lain, terus dalam hati mikir, "Halah, gampang ini mah."
Kalimat itu emang gampang banget keluar kalau kita cuma ngeliat hasil akhirnya. Kelihatan simpel karena kita nggak ngeliat proses panjang di belakangnya: belajarnya berapa lama, salahnya udah berapa kali, dan pertimbangan rumit apa aja yang harus diambil. //Semuanya gampang ketika kamu disuapin Package yang telah diramu.
Pas cobain sendiri?. Ternyata tidak seperti yang dipikirn. Pekerjaannya nggak berubah kok, cuma pengetahuaanya aja yang nambah.
Hal yang sama berlaku pas kita menilai manusia. Makin sedikit yang kita tahu tentang seseorang, makin gampang kita ngecap dia ini-itu. Tapi begitu kita kenal lebih dekat, baru kelihatan sisi-sisi lain yang tadinya ketutup.
Belajar Menahan Diri Bikin Kesimpulan
Memahami bukan berarti harus memaklumi semua hal kok. Kita tetep boleh nggak suka, tetep boleh kecewa, tetep boleh bilang kalau seseorang itu salah.
Tapi ada beda besar antara:
"Saya nggak setuju setelah paham alasannya" dgn "Saya benci dia karena dari awal emang males nyari tahu alasannya."
Mungkin kita emang nggak bakal bisa berhenti menilai orang lain. Tapi setidaknya, kita bisa belajar buat melambatkan prosesnya. Sebelum buru-buru bikin kesimpulan, coba tanyain dulu ke diri sendiri:
- "Yang saya tahu ini beneran fakta, atau cuma asumsi?"
- "Ada cerita yang belum saya denger nggak ya?"
- "Gimana kalau ternyata tebakanku selama ini salah?"
Pertanyaan terakhir itu emang paling bikin nggak nyaman. Karena ngakuin kalau tebakan kita salah itu artinya ngakuin kalau kita pernah keliru.
